Jakarta, 4 April 2025 – Kebijakan proteksionis yang kembali digaungkan oleh mantan Presiden Amerika Serikat, Donald J. Trump, menjelang pemilu presiden AS 2025, menuai kekhawatiran dari banyak negara berkembang, termasuk Indonesia. Salah satu isu utama adalah rencana pengenaan tarif tinggi terhadap berbagai produk impor yang disebut-sebut dapat mencapai 60% terhadap barang-barang dari Tiongkok dan negara-negara lainnya.
Langkah ini dinilai dapat memicu perlambatan ekonomi global, memperburuk rantai pasok internasional, dan berpotensi menekan perekonomian Indonesia yang sangat bergantung pada perdagangan luar negeri.
Rincian Kebijakan Tarif
Pada 2 April 2025, Presiden Trump mengumumkan tarif dasar sebesar 10% untuk semua impor ke Amerika Serikat. Selain itu, tarif tambahan diberlakukan berdasarkan defisit perdagangan bilateral dengan negara-negara tertentu. Indonesia, sebagai salah satu negara yang terkena dampak, menghadapi tarif sebesar 32% yang akan berlaku mulai 9 April 2025.
Dampak Potensial terhadap Indonesia
1. Penurunan Ekspor ke AS
Produk-produk Indonesia seperti tekstil, alas kaki, elektronik, dan produk pertanian yang diekspor ke AS akan mengalami kenaikan harga di pasar AS akibat tarif baru ini. Hal ini berpotensi menurunkan daya saing produk Indonesia dan mengurangi volume ekspor .
2. Gangguan pada Rantai Pasok Global
Indonesia merupakan bagian dari rantai pasok global, terutama dalam sektor manufaktur. Tarif tinggi yang dikenakan AS terhadap negara-negara seperti Tiongkok dapat mengganggu rantai pasok tersebut, yang pada akhirnya berdampak pada permintaan produk Indonesia .
3. Volatilitas Pasar Keuangan
Pengumuman tarif ini telah menyebabkan gejolak di pasar keuangan global. Indeks Dow Jones turun lebih dari 1.200 poin, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap potensi perang dagang. Pasar keuangan Indonesia mungkin juga mengalami volatilitas serupa, dengan potensi pelemahan nilai tukar rupiah dan penurunan indeks saham .
Tanggapan Pemerintah Indonesia
Pemerintah Indonesia menyatakan keprihatinannya terhadap kebijakan tarif baru AS dan sedang mempertimbangkan langkah-langkah untuk mengurangi dampak negatifnya. Beberapa strategi yang dipertimbangkan antara lain:
- Diversifikasi Pasar Ekspor: Mencari pasar alternatif di luar AS untuk produk-produk Indonesia.
- Peningkatan Daya Saing Produk: Mendorong inovasi dan efisiensi dalam produksi untuk mempertahankan daya saing di pasar global.
- Negosiasi Diplomatik: Melakukan dialog dengan pemerintah AS untuk mencari solusi yang saling menguntungkan dan menghindari eskalasi perang dagang .
Penerapan tarif impor baru oleh pemerintahan Presiden Trump menimbulkan tantangan signifikan bagi perekonomian Indonesia. Meskipun demikian, dengan strategi yang tepat dan kerja sama antara pemerintah dan pelaku usaha, Indonesia diharapkan dapat mengatasi tantangan ini dan menjaga stabilitas ekonominya.